Tulisan

Solusi Kepemimpinan untuk Problematika di Zaman Sekarang

Jundi Haroky

Sering kali istilah peradaban disamakan dengan kebudayaan dan pengelolaan suatu masyarakat, bahkan menurut kamus besar Bahasa indonesia, peradaban diartikan sebagai kemajuan lahir batin. Beberapa tokoh besar juga mengartikan makna sebuah peradaban, seperti Huntington, menurutnya pradaban itu terbagi beberapa pembagian, dan semua pembagian berdasarkan pembuktian budaya dan agama di dunia hari ini. Diantaranya adalah peradaban Barat, Islam, Ortodoks, Hindu, Buddha, Sino, Jepang, Afrika, Amerika latin. Hal itu memperlihatkan bagian peradaban dunia, bahwa setiap peradaban yang di sebutkan oleh Huntington memiliki kesamaan budaya, ideologi, dan agama. Namun pada nyatanya peradaban islam yang disebutkan sebagai peradaban oleh Huntington sering kali menjadi objek yang bertentangan, atau disalahkan. Karena hal itu muncul lah istilah islamophobia yang menyuara di benua Eropa dan Amerika, istilah ini muncul disebabkan teori yang dibawa oleh Huntington. Selain itu islamaphobis muncul sebagai dendam barat terhadap islam pasca kalah dalam perang salib dan keruntuhan konstatinopel.

Maka dari itu bagaimana idealnya peradaban islam, maka perlu kita kaji lebih dalam lagi untuk memahami islam itu sendiri. Dengan ini perlu di lihat bagai mana islam memandang dunia atau yang disebut worldview. Namun disini islam mempunyai pandangannya sendiri terhadap dinua yang di kenal Islamic worldview, dengan ini islam mempunyai Langkah untuk berpikir dan berkhendak. Tentu semua Langkah yang diambil berdasarkan dengan al-Qur’an dan Hadist. Ketika membicarakan tentang peradaban islam, kita sering bertanya-tanya bahwa apa misi dan visi yang dibawa peradaban islam. Maka kita perlu tahu dulu tugas manusia diturunkan ke bumi, Allah berfiman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". Dari ayat 30, surah al-Baqoroh Allah menunjukan bahwa tugas manusia di muka bumi ini adalah sebagai senrang khalifah. Ini juga menjadi tujuan atau misi dari peradaban islam yang memliki misi khalifatu fil ardhl, yakni misi menjaga bumi dari segala kerusakan. Dengan demikian, jika ada yang bertanya tentang idealnya peradaban islam. Maka dapat kita jawab dengan, ketika keteraturan di dunia ini terjadi. Sempat di singung bahwa tugas manusia di muka bumi sebagai khalifah atau dengan kata lain menjadi seorang pemimpin. Saat ini kepemimpinan menjadi persoalan yang penting pada setiap bangsa. Hal itu juga menjadi penting bagi suatu bangsa agar bisa menentukan perkembangan bangsa tersebut. Kualitas pemimpin menjadi suatu hal yang terpenting bagi kemajuan suatu bangsa. Jika suatu bangsa berdiri dengan kualitas kepemimpinan yang buruk, seperti pemimpin yang kurang tegas, tidak bisa menjadi teladan, zalim terhadap rakyat, gila terhadap dunia, dan berbagai segala hal yang negatif. Maka hal ini akan berdampak pada tata aturan kehidupan bangsa tersebut, tidak hanya itu tapi juga berdampak pada masyarakat yang terzalimi. Hal ini termasuk pemimpin yang sakit dalam pandangan spiritual. Proses pemulihan kepemimpinan yang sakit spritualnya, menjadi suatu yang penting, ini agar kualitas kepemimpinan itu sendiri bisa terjaga.

Jika dilihat dengan kondisi kepemimpinan pada hari ini, banyak sekali masalah yang di terjadi. Merosotnya kondisi seperti ini, itu karena ada hubungannya dengan kualitas pemimpin itu sendiri. Sudah sering diungkapkan bahwa jika pemimpin baik, maka bangsa juga akan ikut baik dan sebaliknya jika pemimpin buruk, maka bangsa juga akan ikut buruk. Hal tersebut bagaimana tidak, pemimpin yang diharapkan oleh rakyat untuk menangani masalah yang ada dan berkembang, malah sibuk dengan memperkaya diri. Korupsi pejabat, mulai dari bupati sampai anota DPR sudah bukan menjadi suatu hal yang rahasia di negara ini.

Melihat kondisi pemimpin seperti itu, mungkin saja ia tidak tahu denga apa sebenarnya tugas seorang pemimpin dimuka bumi, mungkin juga tak memahami betul arti penting seorang pemimpin. Bisa saja pemimpin itu tidak bersunguh-sunguh dalam melaksakan pangilan mulia mereka sebagai pemimpin. Jika seorang pemimpin sungguh-sungguh dalam menyadari penting seorang pemimpin, maka seharusnya semua prilaku yang meyengsarakan rakyat tidak akan terjadi. Jika pemimpin benar-benar paham, tentang hak dan kewajibannya, maka Tindakan-tindakan yang mengarah pada hal dunia dan lalai dalam kewajibannya tidak mungkin terjadi.

Maka bangkit dan jadilah seorang pemimpin yang ideal, agar dicintai oleh rakyat dan mejadi panutan. Jadi lah pemimpin yang membebaskan penghambaan kepada manusia hanya kepada Allah semata, ini lah yang dinamakan pemimpinan profetik. Profetik bisa kita pelajari pada kisah-kisah para Nabi dalam al-Qur’an, dari situ kita, bisa mengambil hikmah. Yaitu bagai mana cara mereka menyadarkan dan membebaskan masyarakatnya serta bisa membangun peradaban yang baru dan lebih bersejarah.

Di sebutkan pula beberapa ciri-ciri tentang pemimpin profetik, yang pertama adalah ta’muruna bil ma’ruf, yang diartikan sebagai suatu misi yang memanusiakan manusia dan juga membangun rasa bertangung jawab dari apa yang telah mereka kerjakan. Kepemimpinan profetik yang kedua adalah tanhauna ‘anil mungkar, yang diartikan sebagai misi membebaskan manusia dari semua belengu keterpurukan dan ketertindasa. Kepemimpinan profetik yang ketiga adalah tu’minuna billah, yang diatikan sabagai misi dan visi kesadaran ilahiah yang mampu mengerakkan hati dan sikap seorang pemimpin agar ikhlas terhadap sesuatu dari apa yang dilakukan. karena seorang pemimpin, harus menegakan visi dan misi keilahiahan yang kuat saat memegang amanah kepemimpinan, hal ini agar mampu membenahi masyarakat. Jika seorang pemimpin berdiri tanpa visi dan misi keilahiahan yang kuat, maka tidak akan pula terbentuk keberhasilan, melain kan kekuasaan yang ia pegang hanya bersifat sementara dan tidak meningalkan kesan dan pengaruh yang kuat untuk generasi selanjutnya.

Jika kepemimpinan berpegang teguh dengan visi dan misi keilahihan maka seorang pemimpin akanmemiliki kesepakatan kepemimpnanyang kokoh. Dengan memiliki visi misi yang tajam dan aktif dalam memberikan solusi islam dalam bahasa yang mudah di pahami oleh masyarakat. Dengan ini seorang penguasa akan mendapatkan pengakuan dari masyarakat, seperti Nabi Adam yang dapat pengakuan dari para malaikat. Bayangkan, sebelumnya para malaikat menduga bahwa para manusia hanya akan membuat kerusakan di muka bumi, namun setelah Allah turunkan ilmudan hikmah kepada Nabi Adam, maka sinarlah lah ke khawatiran itu. Untuk memahami konsep kepemimpinan profetik. Dapat kita lakukan dengan cara mengabungkan antara unsur-unsur yang meyusun kepemimpinan profetik itu sendiri. Jika kita melihat lebih jelas tentang kepemimpinan yang dimiliki Rasulullah, maka kita akan menemukan beberapa unsur. Kurang lebih Rasulullah memberikan lima unsur. Unsur tersebut adalah:

Pertama, pemimpin yang berilmu ilmu. disini lah ilmu pengetahuan dan hikmah yang menjadikan antara keduanya mampu untuk memilih keputusan yang tepat dan sejalan dengan akal dan sunnatullah. Jika seorang pemimpin mempunyai akal yang lemah, bagai mana ingin menselesaikan masalah-masalah rakyatnya. Selain itu, jika memiliki akal yang lemah maka akan kesulitan juga mengambil keputusan yang harus segera di ambil. Ilmu juga mencegah seorang pemimpin dari melakukan tindakan tergesa-gesa, sikap tidak sabar, dan egois. Kedua, Pemimpin yang memiliki kekuatan. Pemimpin adalah sebuah amanah yang sangat besar. Maka dari itu amanah ini tidak boleh di serah kan kepada orang yang lemah. Tetapi kepada orang yang kuat. Makna kuat jangan sampai di salah artikan, jangan di artikan bahwa kekuatan yang dimiliki untuk kepentingan memuaskan pribadinya sendiri. Jika seperti itu maka akan muncul lah pemimpin bertangan besi yang akan merugikan banyak orang.

Ketiga Pemimpin yang amanah. Jika kita sudah menjadi seorang pemimpin maka tandanya orang-orang percaya dengan kita. Maka dari itu pengang amanah tersebut dengan bijak jangan sampai diri kita tergoda dengan harta, tahta, dan wanita dalam menjalankan amanah menjadi seorang pemimpin. Keempat, Pemimpin yang memiliki daya regenerasi. Menjadi seorang emimpin harus mampu mewariskan sifat-sifat kepemimpinan profetiknya. Karena pemimpin yang profetik bukan hanya sekadar janji terhadap Allah dan hamba-Nya atau hamba dengan hamba yang lain. Tapi pemimpin profetik adalah kedua dari janji tersebut. Hanya seorang hamba yang memiliki kesadaran akan peran dan fungsinya sebagai pemimpin atau wakil Allah di muka bumi. Kelima, Pemimpin yang bertakwa. Semua unsur tadi, semuanya harus dilandasi dengan ketakwaan. Hal ini menjadi penting karena Rasulullah sendiri yang menekan kan dalam setiap pemilihan seorang pemimpin, seperti dalam memilih pemimpin untuk pasukan perang. Karena itulah al-Qur’an mempunyai pesan, yaitu Membangun pribadi yang bertakwa sangat penting. Sebab dengan taqwa seorang pemimpin akan senantiasa mengikuti printah-printah Allah. Maka segala langkah nya akan menjadi berkah dan otomatis negara yang di pimpin akan ikut menjadi berkah.

Bila di lihat dari banyaknya sejarah, telah membuktikan bahwa kisah-kisah pemimpin berhasil seperti yang Allah ceritakan dalam al-Qua’an. Itu adalah contoh yang tidak bis akita nafikkan sebagai puncak kepemimpinan yang ideal dan sukses. Jika kita lebih teliti lagi memperhatikan keberhasilan mereka, itu karena ketaqwaan. Pemimpin yang bertaqwa, akan berlaku jujur dan Amanah dan pemimpin yang jujur dan amanah, maka akan memberikan yang terbaik kepada rakyatnya. Sebaliknya jika pemimpin tidak bertaqwa, maka ia akan hanya membawa bencana dan kezaliman yang di bangga-banggakan. Kezaliman adalah suatu kesensaraan. Maka dari itu Allah menyebut kan bahwa orang yang paling zalim adalah orang yang telah mendapat tuntunan dari Allah tapi ia malah berpaling darinya.