Tulisan
Definition Of Secularization
Zulkarnain Umar Khana
Jika kita melihat dunia barat pada masa kini, kita dapat melihat betapa megahnya peradaban mere dengan segala prestasi yang telah mereka buat. Meraka beranggapan bahwa hal itu mereka dapat karena mereka telah membuang agama mera atau memisahkannya dengan kehidupan sehari-hari. Pemisahan inilah yang kita kenal dengan sekularisasi, tapi apa itu sekularisasi?
Sekularisasi memiliki beberapa artian dan seorang sosiolog bernama Cornelis Van Peursen dan dibukukan oleh Harvey Cox dalam bukunya Secular City mendefinisikan Secularization sebagai pembebasan manusia dari agama dan kontrol metafisika dari akal dan bahasa. Contoh kontrol metafisika adalah kesakralan sesuatu bagi seseorang. Karena terlepasnya kontrol tersebut, manusia dapat berlaku seperti tuhan karena dia percaya bahwa tidak ada yang mengontrolnya.
Definisi lainnya adalah hilangnya dunia dari pemahaman keagamaan dan seni agama. Maksudnya adalah tidak boleh melihat dunia dengan kacamata agama. Selain itu mereka juga membuang pandangan hidup yang tertutup. Karena pandangan yang tertutup itu pasti benar, seperti islam itu benar. Karena mereka menolak kebenaran dan menjadikannya relatif, maka pandangan yang tertutup harus dibuang.
Sekularisasi juga memiliki arti menghancurkan semua mitos supernatural dan simbol-simbol yang suci. Meskipun kita menolak semua hal mitos, tapi kita masih meyakini adanya simbol yang suci seperti Al-Qur`an, Masjid dan lain-lain. Jika kita melihat Al-Qur`an sebagai kitab suci, maka mereka melihatnya hanya sebagai kumpulan kertas pada umumnya.
Arti lain sekularisasi adalah defatalisasi sejarah. mereka beranggapan bahwa sejarah itu bukan ketetapan tuhan tapi dapat mereka bentuk sendiri. Tapi konsekuensi dari hal ini adalah mereka tidak dapat menyalahkan “keberuntungan” dan “kesialan” karena mereka bertanggung jawab atas diri mereka masing-masing.
Sekularisasi tidak hanya berdampak pada politik dan sosial, tapi juga berdampak terhadap kebudayaan. Contoh: hijab itu selain jadi syariat juga menjadi simbol kebudayaan. Karena jika mereka menghilangkan agama, itu juga berdampak pada budaya karena syariat itu sendiri sudah menjadi kebudayaan mereka. Selain itu, mereka (orang barat) beranggapan bahwa sekularisasi adalah proses sejarah yang tidak bisa dihindari seperti mati dan penuaan fisik.
Selain itu, sekularisasi juga memiliki arti pengalihan pandangan manusia dari yang “di sana” menjadi “di sini”. maksudnya adalah mereka hanya meyakini hal-hal yang ada sekarang, “di sini” dan menolak hal-hal yang metafisika seperti kehidupan setelah kematian, “di sana”.
Mereka juga berpendapat bahwa sekularisasi adalah proses pembebasan sehingga mereka tidak melihat itu sebagai hal yang buruk dan justru mendukungnya. Akibat yang ditimbulkan dari sekularisasi adalah Historical Relativism atau perubahan nilai-nilai yang sudah final menjadi relatif. Dari Historical Relativism ini-lah lahirlah paham Religion Plural atau yang lebih dikenal sebagai Pluralisme.
Unsur-unsur yang membentuk sekularisasi adalah Disenchantment of Nature, Desacralization of Politics dan Deconsicration of Values. Disenchantment of Nature adalah menghilangkan unsur-unsur metafisika dari alam atau mengosongkan alam dari animisme, dewa dewi dan sihir. Konsep ini berasal dari seorang sosiolog Jerman bernama Max Wieber. Karena penghilangan tersebut, meraka tidak lagi melihat alam sebagai “entitas suci” contohnya adalah seseorang melihat suatu hutan sebagai tempat yang skral keran di percaya ada kekuatan ghaib di sana. Karena itu, meraka berlaku sebebasnya pada alam tanpa takut pada hal metafisika.
Yang kedua, Desacralization of Politics adalah menghapus sifat sakral politik. Maksudnya adalah mereka tidak melihat politik atau jabatan sebagai sebuah amanah yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat sehingga mereka berlaku semena-mena dengan jabatan yang mereka punya.
Dan yang terakhir Deconsicration of Values adalah merubah kreasi budaya dan sistem nilai (termasuk agama dan worldview) yang memiliki makna final dan utama pada hati mereka menjadi bersifat relatif dan sementara. Dengan cara seperti itu, sejarah atau masa depan menjadi terbuka terhadap prubahan dan manusia bebas membuat perubahan tersebut dan menenggelamkan diri mereka pada proses “evolusi”.